Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dengan Pengembangan Entrepreneur skill Pemuda Indonesia
Oleh:
Eryan Dwi Susanti (FE UNY)
Departemen
Perdagangan Republik Indonesia dalam buku yang berjudul “Menuju ASEAN Economic Community 2015” mendeskripsikan AEC sebagai
bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam rangka menjaga stabilitas politik dan
keamanan regional ASEAN, meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di
pasar dunia, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, serta
meningkatkan standar hidup pendudukan negara anggota ASEAN.
Namun,
bagaimana kondisi Indonesia saat ini? Bulan Februari tahun 2013 jumlah penduduk
Indonesia yang memasuki usia kerja sebesar 175.098.712. Dari jumlah tersebut sebanyak 7.170.523
adalah pengangguran terbuka (bukan termasuk ibu rumah tangga dan pelajar)
(sumber: bps.go.id). Pengangguran
terbuka ini hanya pengangguran yang tercatat dalam statistika BPS. Masih ada
ribuan bahkan jutaan pengangguran di Indonesia yang belum memasuki data BPS.
Pendapatan nasional per kapita selama periode 2001-2012 terus mengalami
peningkatan yang cukup signifikan. Besar pendapatan nasional per kapita pada
tahun 2012 mencapai Rp9.490.533,09 (sumber: bps.go.id).
Jumlah ini bukanlah penentu kesejahteraan masyarakat. Pasalnya ketimpangan yang
terjadi di Indonesia sangat tinggi. Ditambah dengan inflasi yang terus
meningkat juga harga barang-barang yang selalu mengalami peningkatan. Dengan
kondisi seperti ini, apakah Indonesia siap untuk menyambut kedatangan AEC 2015?
Sedangkan pemuda Indonesia masih banyak yang menganggur dan tidak tergerak
untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
Mengatasi hal tersebut di atas, maka peran pemuda
dalam menghadapi AEC 2015 sangat dibutuhkan mengingat bahwa pemuda sebagai
tonggak perubahan. Salah satu upaya untuk memberdayakan pemuda Indonesia adalah
dengan penanaman dan pengembangan jiwa kewirausahaan (entrepreneur skill). Diharapkan dengan penanaman entrepreneur skill sejak dini, pemuda
Indonesia mampu mendongkrak perekonomian Indonesia di masa depan terutama dalam
memasuki AEC 2015. Menengok bahwa sektor swasta skala besar didominasi oleh
kekuasaan asing, maka tantangan yang dihadapi Indonesia adalah memberdayakan
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan koperasi. Untuk merangsang pemuda
untuk berkonstribusi dalam pemberdayaan UMKM dan koperasi salah satunya adalah
diberikan kebebasan dalam berkreasi dan berinovasi, pemberian kredit selektif
dimana kredit ini diberikan hanya kepada peminjam yang ingin berwirausaha,
pemberian penghargaan kepada wirausaha muda, dan pemberian pelatihan
kewirausahaan sejak dini.
Lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan
mempunyai peran dalam pengembangan entrepreneur
skill pemuda Indonesia karena lembaga ini secara langsung dapat berinteraksi
dengan para pemuda. Dengan inovasi pemuda Indonesia yang tak terbatas maka
produk dalam negeri mampu bersaing dengan produk asing sehingga hal ini
mendatangkan keuntungan bagi Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi
Indonesia.
Kita patut berbangga hati bahwa Indonesia adalah
negara dengan SDM terbanyak se-ASEAN. Idealnya, dengan SDM banyak maka
produktivitas tinggi dan mampu mempercepat pembangunan ekonomi. Namun SDM di
Indonesia kualitasnya tidak sebaik dibanding negara ASEAN lainnya seperti
Singapura. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan entrepreneur skill
bagi pemuda Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk barang
dan jasa guna menuju AEC 2015.
Wirausaha muda Indonesia, siap menuju AEC 2015!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar