Pemilu 2014 Tak Mendongkrak Ekonomi Indonesia
Pemilu legislatif, 9 April 2014 lalu,
sebagai helatan besar dalam pelaksanaan demokrasi Indonesia. Pemilu ini menjadi
event besar sekaligus peluang bagi tumbuhnya perekonomian Indonesia. Seperti
halnya pemilu 2014 kali ini, namun tidak terlalu berdampak besar.
Sebuah
artikel berita dalam okezone.com, menyebutkan bahwa pelaku bisnis perbankan
nasional menilai sumbangan pertumbuhan ekonomi dari proses pemilu 2014 akan
tetap pada perkiraan awal 0,2 persen walaupun memang kondisi saat ini dinilai
lebih lambat dari tahun pemilu 2009. Akibatnya Bank Indonesia merevisinya
menjadi 0,1 persen.
Penurunan
sumbangan pertumbuhan ekonomi akibat pemilu 2014 dipicu oleh beberapa alasan.
Dan salah satu alasannya adalah menurunnya besaran
bantuan donatur penyuksesan pemilu dari sektor pertambangan seperti batu bara
akibat menurunnya harga komoditas.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan ekonom BNI bahwa indikator
pelemahan dibanding pemilu sebelumnya terlihat dari besaran konsumsi masyarakat
yang menurun.
Sektor
lain yang dulunya sangat terpengaruh akibat pesta demokrasi ini adalah pabrik
percetakan dan pembuatan kaos. Saat ini masyarakat telah melek teknologi,
kesadaran berpolitik menjadi semakin meningkat karena mudahnya dalam mengakses
internet. Kampanye-kampanye tidak lagi digembar-gemborkan lewat pawai ataupun
orasi, kali ini kampanye banyak digencarkan lewat media elektronik, unggahan di
internet baik lewat facebook, twitter, blogger, ataupun berbagai jenis media
elektronik lainnya. Akibat yang ditimbulkan dari segi ekonomi adalah menurunnya
permintaan riil. Dengan sedikitnya permintaan mengenai pencetakan kaos,
pamflet, banner, ataupun spanduk menyebabkan pendapatan sektor riil tidak
sebesar ketika pemilu 2009 lalu.
Penurunan
permintaan terhadap percetakan ini salah satu faktor penyebabnya adalah
berkurangnya partai politik yang berpartisipasi dalam pemilu 2014 kali ini.
Pasalnya pada pemilu 2009 lalu, jumlah partai politik mencapai 44 partai dan
sekarang hanya ada 12 partai dalam laga pemilu 2014. Penurunan jumlah partai
politik ini mengurangi jumlah calon legislatif yang akan bergelut. Tentu saja
hal ini secara otomatis mengurangi pengaruh pemilu terhadap perekonomian
nasional.
Faktor lainnya adalah aturan KPU dan KPK mengenai
penggunaan dana kampanye dan agar bansos jauh dari motif politik juga
mempengaruhi penurunan pengaruh pemilu terhadap perekonomian. Selain itu, incumbent baik pemerintahan maupun calon
legislatif dibatasi untuk tidak menerima sumbangan kampanye. Kemudian aturan pemasangan
atribut kampanye yang tidak boleh sembarangan untuk dipublikasikan.
Kesimpulannya Pemilu tidaklah selalu menjadi ajang yang
dapat mendongkrak kegiatan perekonomian. Pasalnya Pemilu 2014 kali ini
mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi daripada Pemilu sebelumnya. Banyak hal
yang menyebabkan menurunnya pengaruh Pemilu terhadap perekonomian nasional
salah satunya berkurang jumlah partai politik yang berpartisipasi dalam Pemilu
2014.
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar