Beda
Mega Beda SBY
Indonesia telah melakukan pergantian Presiden sebanyak 6
kali sejak tahun 1945 hingga sekarang (tahun 2014). Dalam setiap pemerintahan
ada banyak perubahan dari pemerintahan sebelumnya. Begitu juga antara
pemerintahan SBY dengan pemerintahan Megawati. Ada banyak kebijakan yang
terlontar diantara keduanya dan tak sedikit yang menimbulkan kontroversi.
Pertama, mengenai kebijakan energi. Dalam pemerintahan
Megawati harga BBM mengalami kenaikan dua kali. Pada 16 Juni 2001 harga BBM
mengalami kenaikan sebesar 30% dalam paket revisi APBN 2001. Berbeda dengan
pemerintahan SBY yang telah menurunkan sebanyak 3 kali. Tanggal 1 Desember 2008
harga turun dari 6000 menjadi 5500 per liternya. 15 Desember 2008 turun menjadi
5000 dan pada 15 Januari 2009 turun hingga 4500.
Mengapa pada pemerintahan Megawati tidak pernah terjadi
penurunan harga BBM? Alasannya karena pada pemerintahan Megawati mewarisi
krisis ekonomi tahun 1998 sehingga pada pemerintahan Megawati fokus pada
pengentasan ekonomi. Prestasinya penerimaan pajak dalam pemerintahan Megawati
mengalami kenaikan dari 50 T menjadi 240 T.
Penurunan BBM pada masa SBY karena harga minyak dunia pada saat itu
turun karena ada krisis internasional dan karena SBY untuk politik citra yang
dikedepankan, berbeda dengan Megawati yang meletakkan dasar finansial nasional.
Berbicara mengenai
penerimaan negara, rasio anggaran dengan GDP dalam pemerintahan Megawati
mencapai 80% sedangkan SBY mampu menekan hingga 30% dan pencapaian ini adalah
terendah nomor tiga se-Asia. Namun demikian utang yang ditanggung pemerintahan
SBY masih sangat membengkak mencapai 1900 T dimana 60% diantara tercipta pada
masa pemerintahan Megawati (1998-2004).
Kondisi harga gas pada masa Megawati mencapai 33% yang
seharusnya hanya boleh 15% dari minyak dunia. Gas pada masa itu banyak
diperdagangkan untuk negara asing, dimana kondisi sangat berbeda jauh dengan
era SBY yang memperdagangkan gas di dalam negara termasuk gas untuk penggunaan
PLN. Ketika minyak bumi murah
Penjualan gas tanggung ke China yang dilakukan pada masa
pemerintahan Megawati bukan tanpa alasan, karena tidak ada negara yang mau,
namun ada penyesuaian harga tiap 4 tahun dan dilengkapi kebijakan lain termasuk
pembangunan Jembatan Suramadu. Namun masa SBY ada penjualan ekson ke Amerika
dan tidak ada conditionality yang
membersamainya. Gas tanggung pada masa Megawati lebih memprioritaskan untuk
negara asing, baru pada era SBY diadakan gas tanggung sebagian dipersediakan
untuk dalam negeri terutama PLN sehingga tanpa subsidi. Di sisi lain harga
energi termurah adalah minyak bumi sehingga digunakan PLN, namun ketika harga
naik mengapa Blok Cepu yang kandungan minyak lebih dari 6 juta barel dan
potensi gas lebih 2 T kubik diberikan kepada ekson mobile? Pemberian ini
mengandung bagi hasil yaitu 70% : 30% dan bagi hasil ini jauh lebih besar dari
bagi hasil pada masa pemerintahan Megawati yang hanya mampu menerima bagi hasil
kurang dari 20%.
Kedua, mengenai ketahanan pangan. Kedaulatan pangan nasional
mengandung pengertian bagaimana suatu negara mampu memenuhi kebutuhan pangannya
dengan usaha sendiri. Kedaulatan pangan ini (era SBY) ditandai dengan swasembada
pangan, peningkatan anggaran anggaran pertanian sebesar 400% dari 4 T menjadi
17 T dan peningkatan pendapatan riil petani naik 4-5% dalam jangka waktu 2004
sampai 2011, harga gabah yang terus meningkat, ditambah adanya subsidi pupuk,
benih, dan kredit usaha tani.
Pada
masa Megawati keran impor benar-benar ditutup dan potensi masyarakat
dioptimalkan. Penutupan keran impor ini untuk menjamin kemampuan petani untuk
berproduksi. Sedangkan era SBY impor sangat gencar dilakukan. Bagaimana
Indonesia yang bernotabene sebagai negara agraris justru malah mengimpor banyak
barang seperti kedelai, beras, gula, bawang, daging, dan garam? Ke depannya
diperkirakan Indonesia akan mengimpor 1,67 juta ton beras. Ketahanan pangan
dalam era SBY dinilai sebagai ketergantungan pangan impor dimana harga gabah
selalu dibawah biaya. Ini berarti bukan menyejahterakan rakyat tetapi
menyengsarakan rakyat.
Sanggahan
SBY menyatakan bahwa importase pangan diperuntukkan untuk raskin, yang
menunjukkan komitmen SBY dalam menyejahterakan rakyat. Impor beras ini karena
ditutupnya bulog sebagai satu-satunya penjaga kestabilan pangan pada masa
Megawati, sehingga bulog tidak bisa mengintervensi harga pangan untuk menopang
petani. Alasan ditutupnya bulog karena stok beras bulog yang diijinkan 2 juta
ton beras namun bulog hanya mampu memenuhi tidak lebih dari 800 ribu ton,
sehingga 1,2 juta lainnya adalah dengan impor, maka impor ini harus ditutup
rapat-rapat untuk mengembangkan potensi rakyat. Negara harus melindungi potensi
masyarakatnya. Di sisi SBY tidak ada yang mubazir untuk rakyat. Untuk memenuhi
pangan rakyat kalau perlu kita impor.
Ketiga, mengenai bagaimana komunikasi politik antara SBY
dan Megawati. Tidak bisa dipungkiri bahwa SBY adalah tokoh yang dapat
berkomunikasi dengan sangat baik sehingga beliau menjadi komunikator terbaik
Internasional dan memasuki 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Kemampuan
dalam berkomunikasi ini menjadikan SBY mampu menarik dan meyakinkan investor
untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga mampu mendorong kegiatan
perekonomian bangsa Indonesia.
Kubu Megawati menyatakan bahwa pemimpin yang baik tidak
dinilai dari gaya bicara ataupun kemampuannya dalam berkomunikasi dan
bernegosiasi, tetapi lebih pada komunikasi apa adanya dan tindakan nyata dari
pemimpin itu sendiri. Pemimpin yang cakap dalam berkomunikasi hanyalah
menunjukkan citra politik saja.
Kesimpulannya, setiap pemimpin memiliki kelebihan dan
kekurangan. Setiap pergantian pemimpin bangsa selalu ada perubahan yang tidak
dapat dihindarkan dimana perubahan ini menimbulkan konsekuensi yang harus
ditanggung baik itu dalam bentuk manfaat ataupun kerugian. Yang terpenting
adalah bagaimana pemimpin amanat dan mampu mempertanggungjawabkan setiap
perbuatannya di depan rakyat.
sumber: matanajwa
sumber: matanajwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar