Transportasi
Massal Tangani Keborosan Energi
Modernisasi
tidak bisa terelakkan dari perkembangan zaman. Teknologi semakin canggih dengan
kemudahan akses dan pemberian fasilitas yang ditawarkan masyarakat semakin
tinggi. Misalnya saja kendaraan pribadi, kendaraan pribadi memang memberikan
kemudahan dalam mobilitas sehingga permintaan terhadap kendaraan bermotor
meningkat. Peningkatan konsumsi kendaraan bermotor tahun ini diperkirakan
mencapai 9 juta unit. Lihat saja saat ini di jalanan, kendaraan bermotor sudah
sangat memenuhi jalan dan tidak terputus berlalu-lalang. Ditambah lagi anak
usia SMP dan SMA yang sudah mengendarai sepeda bermotor meskipun umurnya belum
memenuhi syarat. Dilain sisi, teknologi menjadi permasalahan baru jika tidak
ditangani dengan bijak. Kemacetan misalnya, masalah ini bukanlah masalah akhir,
justru menjadi penyebab dari masalah-masalah lainnya. Akibat kemacetan ini,
semakin banyak bahan bakar yang terbuang sia-sia, semakin banyak pula polusi
yang ditimbulkan. Dalam rangka menekan keborosan energi akibat kemacetan ini,
ditawarkan solusi yaitu pengadaan transportasi masal.
Mengapa
harus menghemat energi? Alasannya adalah bahwa Indonesia yang kata orang kaya
akan barang galian, salah besar ketika mempersepsikan hal tersebut terhadap BBM,
faktanya bahwa Indonesia tidak lagi masuk dalam 10 besar negara dengan cadangan
energi terbesar. Cadangan minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel atau 0,3%
dari cadangan minyak dunia. Dengan produksi per tahun 359,89 juta barel, maka
cadangan minyak di Indonesia dalam 12 tahun akan habis. (http://andri0204.wordpress.com/2012/11/18/3-langkah-jitu-dalam-menghemat-energi-dan-menjaga-lingkungan/ Diakses pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 09.16 WIB)
Satu
fakta mengenai pertamax bahwa Pertamina memproduksi pertamax sebanyak 500.000
kiloliter sedangkan ia harus memenuhi kebutuhan pertamax yang mencapai angka
800.000 kiloliter per hari. Pertamax yang non-subsidi saja sudah kehabisan stok
dan tidak mampu menutupi kebutuhan, bagaimana dengan premium yang sudah
bersubsidi dan konsumen meledak?
Keborosan
energi ini menjadikan pemerintah mengeluarkan Perpres nomor 5/2006 tentang
kebijakan energi nasional bahwa diversifikasi dan konversi energi harus
digalakkan, sehingga pada tahun 2025 BBM yang digunakan benar- benar hanya
sekitar 25%, sisanya adalah gas 30%, batu bara 33% dan energi terbarukan
lainnya.
Pengalihan
ke transportasi masal menjadi alasan terpenting untuk mengurangi kemacetan.
Fakta mengenai kemacetan adalah bahwa dalam sebuah kemacetan, 20% waktu kerja mesin dihabiskan dalam 0 km/jam.
Fakta lain yang terjadi di Jakarta berdasar kalkulasi per tahunnya menguapkan
BBM sebesar 12 T jika dikonversikan kedalam rupiah. Saat ini konsumsi BBM
bersubsidi mencapai Rp.77.9 Triliun hanya untuk mobil pribadi sementara
angkutan umum hanya mengkonsumsi 3%, mobil barang 4%, motor 40% dan mobil 53%.
Dan total untuk konsumsi kendaraan pribadi adalah 136,7T. Dilihat bahwa
transportasi masal hanya menempati 3% dibanding mobil yang sudah mengonsumsi
53% BBM bersubsidi. Terjadi gejolak bukan? Andai saja transportasi masal
digalakkan dan benar-benar menjadi mobilisator utama tentu penggunaan energi
dapat ditekan sedemikian rupa.
Ironisnya
adalah pemerintah justru menetapkan kebijakan LCGC (Low Cost Green Car) yang
justru hal ini menjadikan konsumsi BBM menjadi semakin membengkak. Alasan
mengenai bahan bakar yang digunakan pada LCGC tidak seboros mobil pada biasanya,
namun bisa dibayangkan jika mobil LCGC ini dikonsumsi terlalu banyak oleh
masyarakat bukankah semakin menambah konsumsi BBM agregat?
Penghematan energi tidak hanya sekedar pengalihan ke
transportasi masal, melainkan sistem transportasi harus benar-benar
dipertimbangkan mulai dari perencanaan sistem transportasi, proses
transportasi, sarana, pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan, dan bahan
bakar yang ramah lingkungan dan hemat energi.
Dekan
Fakultas Kesehatan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dr. J.
Mukono MPH. MS, menyebutkan bahwa hal yang terpenting untuk mengurangi polusi
udara adalah dengan cara mengurangi penyebabnya, yaitu mengurangi jumlah
kendaraan bermotor. Hal ini dapat diselesaikan dengan menciptakan sistem
transportasi massal yang cepat, nyaman, dan aman. Transportasi ini pun harus
juga terjangkau harganya oleh masyarakat. Kereta dan Busway adalah dua contoh
yang perlu terus didukung. (kerling.wordpress.com. Diakses pada 14 Mei 2014
pukul 09.11 WIB).
Model
transportasi yang hemat energi dan ramah lingkungan harus memenuhi dua syarat
utama yaitu pemindahan barang dan manusia dilakukan dalam
jumlah yang terbesar dan jarak yang terkecil. Dibandingkan dengan kendaraan
pribadi, transportasi masal tentu memenuhi kedua kriteria tersebut. Transportasi
masal mampu memobilisasi puluhan penumpang hanya dengan sekali jalan. Jarak
yang ditempuh transportasi masal juga lebih dekat. Hal ini menjadikan
transportasi masal lebih efisien, sekaligus energi yang dikeluarkan per
penumpang menjadi lebih kecil, sehingga mampu menekan konsumsi energi (BBM).
Transportasi
masal memang menjadi idealitas yang baik dalam mengatasi keborosan energi.
Transportasi menjadi sangat digalakkan pemerintah melalui ditambahnya jumlah
kuantitas transportasi. Jakarta misalnya sudah menambah jumlah Transjakarta dan
menambah jenis transportasi masal baru (BRT). Kementrian Perhubungan
menganggarkan 382 M untuk pengembangan BRT atau transportasi bus masal untuk
enam kota aglomerasi di Indonesia. Namun tambahan kuantitas transportasi masal
tidak berbanding lurus dengan tingkat kualitas transportasi masal. Transjakarta
yang tadinya memang sangat murah ketika dibeli dari China, namun pada akhirnya
justru membengkakkan biaya perawatan dimana ditemukan karat pada besi
transjakarta yang baru berumur 5 tahun. Tidak hanya kualitas transportasi
tetapi faktor-faktor lain seperti kriminalitas, kenyamanan, kebersihan, dan
keamanan transportasi menjadi penghambat masyarakat untuk menggunakan
transportasi masal.
MRT
dan Monorel menjadi langkah cerdas untuk mendorong masyarakat menggunakan
transportasi masal. Tahap pertama dilakukan pembangunan jalur MRT sepanjang
15,7 kilometer dari Lebak Bulus ke pusat kota Jakarta senilai 1,5 miliar dolar
Amerika. MRT sangat efektif untuk menekan kemacetan, namun dibutuhkan langkah
lain sembari menunggu dikelarkannya MRT ini. Sebagai langkah awal, Gubernur DKI
Jakarta akan memberlakukan sistem elektronik "road-pricing". Sistem ini memungkinkan penarikan bea tol
secara otomatis di jalan-jalan utama kota Jakarta sehingga kendaraan pribadi
akan menjadi sangat mahal dalam peroperasiannya dan masyarakat beralih ke
transportasi masal.
Jutaan
solusi semakin direalisasikan, BRT (Bus Rapid Transit) menjadi bagian dari
jalan alternatif mengatasi kemacetan. Dewan Energi Nasional telah membentuk
kelompok kerja untuk melaksanakan kebijakan BRT ini. Kementrian Perhubungan
mendorong percepatan program konversi BBM ke BBN (Bahan Bakar Nabati) dan BBG
(Bahan Bakar Gas). (Koran Jakarta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar